Sosok Transendental dalam Kepercayaan Marapu dan Pitu Li’i Ina- Pitu Li’i Ama

 
max resdefault. Sumba Land of Marapu - Youtube


Pertanyaan yang sering diajukan oleh banyak orang kepada warga dengan kepercayaan marapu adalah, apakah orang marapu percaya dan mengenal suatu sosok tertinggi atau pencipta segala sesuatu? Pertanyaan ini sering kali diajukan oleh setidaknya mereka yang menganut salah satu dari lima agama besar  di Indonesia yaitu Islam, Kristen, Budha, Katolik dan Hindu. 

Pertanyaan itu sering kali terlontar karena rasa penasaran dan keingintahuan mereka, atau bisa jadi juga mungkin karena mereka terlena dengan dogma agama yang dianut sebagai ajaran yang dirasa paling benar. Mereka kemudian menjelmakan rasa arogansi tersebut dalam sebuah pertanyaan seperti di atas dengan tujuan intrinsik yaitu ingin menyudutkan memojokkan agama purbawi ini.

Namun terlepas dari sisi negatif motivasi di balik pertanyaan tersebut, sisi positif yang dapat dilihat adalah semakin menguatkan dan memurnikan kepercayaan orang marapu itu sendiri. Menguatkan artinya mendorong orang marapu untuk semakin tertantang berpegang teguh pada kepercayaannya. Memurnikan artinya mengajak orang marapu untuk benar-benar kembali kepada nilai-nilai hakikinya. 

Implikasi bahasa adat yang sering dikumandangkan,  tana nda dikki, watu nda ngero, tanah yang tidak berpindah dan batu yang tidak bergeser semakin menyata. Ungkapan ini sebenarnya bukan hendak menunjukkan suatu keadaan atau lokasi tanah tertentu, tetapi menyatakan sebuah prinsip hidup yang tidak boleh diabaikan sedikit pun. Karena itu, pertanyaan menantang sekaligus menyudutkan di atas bukanlah hal yang justru melemahkan, tetapi sebaliknya menguatkan prinsip hidup dan keyakinan yang dimiliki orang marapu.  

Pertanyaan mengenai apakah ada atau tidaknya keyakinan dari orang marapu kepada sosok transendental dalam ajaran marapu itu sendiri, sekiranya terungkap dalam beberapa bahasa adat di bawah ini yang langsung diikuti terjamahannya, Ina Mawolo-Ama Marawi, Ibu yang memintal-Bapa yang membuat/menciptakan, Ina Duka Ina – Ama Duka Ama, Ibu dari segala ibu-Bapa dari segala bapa, Ndapa Tekki Ngara – Ndapa Suma Tamo, yang namanya tidak boleh disebutkan-yang namanya diboleh dipakai sebagai nama manusia, kalada mata – belleka rokatillu, bermata besar-bertelinga lebar (yang melihat semua apa yang dilakukan manusia dan mendengarkan semua apa yang dikatakan atau sampaikan manusia), Pamake Mata – Pamomo Wiwi, yang tidak boleh dipandang langsung dengan mata-yang tidak boleh dipanggil langsung dengan bibir. 

Dapat dilihat bahwa sebutan-sebutan itu menunjukkan suatu pola relasi antara yang diagungkan-yang mahakuasa dan manusia sebagai makhluk fana dan terbatas. Ungkapan-ungkapan di atas menunjukkan suatu sifat kemahakuasaan yang juga disebutkan dalam lima agama besar lainnya. 

Namun, dari awal saya tegaskan memang posisi saya bahwa saya bukan hendak bermaksud membenarkan posisi kepercayaan marapu mengenai keberadaan sosok Mahatinggi dalam kepercayaan mereka atau seakan menyetarakan kepercayaan marapu dengan lima agama besar yang ada di Indonesia. 

Persoalan apakah sebutan untuk sosok transendental yang ada pada kepercayaan marapu adalah apa yang disebut sebagai Tuhan dalam agama besar lainnya, itu bukan tujuan tulisan saya. Itu tentu merupakan persoalan yang berbeda jika ingin dikupas lebih lanjut.

Tulisan ini tidak bermaksud membanding-bandingkan atau menimbang kesamaan yang ada dalam kepercayaan marapu dengan agama besar lainnya. Di sini saya hanya ingin menguakkan eksistensi kepercayaan marapu itu sendiri. Penilaian seseorang terhadap kepercayaan marapu berdasarkan kesadarannya adalah ranah privat yang tidak mau saya ganggu sejauh tidak merugikan orang marapu itu sendiri.

Jika orang marapu telah sepakat tentang hadir dan adanya campur tangan sosok transendental dalam hidup mereka lewat sebutan-sebutan keagungannya, maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana orang marapu mengenal sosok transendental tersebut?

Sekiranya orang marapu mengenal sosok transendental itu lewat pengalaman mereka. Setidaknya ada empat bidang pengalaman akan sosok transendental yang dapat dikemukan. 

Pertama,  alam. Setiap orang pasti akan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya baik benda hidup maupun benda mati. Interaksi tersebut menimbulkan dua hal yang sangat nyata yaitu aksi dan reaksi. 

Aksi adalah suatu tindakan yang dilakukan entah disengaja atau pun tidak disengaja. Reaksi itu sendiri adalah tanggapan atas suatu aksi. Orang marapu melakukan aksi seperti memelihara ternak, bertani dan berkebun. Di sana mereka menemukan bahwa aksi tersebut menimbulkan reaksi bahwa kebutuhan pokok dalam hidup mereka terpenuhi dan mereka dapat bertahan hidup. Di saat yang sama, mereka sadar bahwa ada sesuatu yang tidak kelihatan yang mengatasi hal yang terjadi di alam. Seperti ada sesuatu di luar jangkauan indra manusia yang memberi kesehatan kepada ternak dan kesuburan kepada tumbuhan.

Kesadaran ini mendorong mereka untuk yakin bahwa rumput, padi, jagung dan berbagai tumbuhan lainnya tidak tumbuh begitu saja. Ada sesuatu yang menumbuhkan, memberi buah dan menjadikan semua itu subur. 

Keyakinan itu akhirnya mendorong mereka kepada suatu sikap percaya kepada yang tidak kelihatan. Kepercayaan ini mulai diwujudnyatakan dalam sebuah ritual dan sosok yang tidak kelihatan itu harus disebutkan sebagai tujuan ritual itu. Namun, mereka merasa tidak pantas dan tidak layak memanggil namanya apalagi memberikannya sebuah nama. Kerinduan itu tidak pupus, mereka mulai merangkaikan sebuah julukan berdasarkan sifatnya dan kehadirannya, tetapi bukan sebagai sebuah nama.

Mereka menyebutnya, Ina mawolo-Ama marawi,Ibu yang menenun alam semesta dan Bapa yang menciptakan langit dan bumi. Bukan saja dalam pengalaman baik mereka menemukan kekuatan dari yang tidak kelihatan. 

Kadang alam juga hadir dengan wajah yang ganas, beringas, menakutkan dan menghancurkan lewat badai, kilat, banjir, tanah longsor, wabah penyakit dan lain sebagainya yang dapat menimbulkan kerusakan, kesengsaraan dan kematian bagi manusia. Pengalaman buruk dengan alam membuat mereka meletakkan gambaran menakutkan dan menghancurkan juga sebagai wajah sosok transendental tersebut. Mereka percaya sosok tersebut bisa marah, jengkel dan juga benci kepada kelakuan manusia jika melakukan sesuatu yang buruk.

Kedua, sejarah. Bagi orang marapu perjalanan hidup para leluhur adalah hal penting yang selalu dan harus tetap diingat. Ingatan tentang perjalanan hidup para leluhur diabadikan dalam budaya tutur dalam ritual-ritual penting. Setiap tempat persinggahan leluhur selalu dituturkan kembali sekaligus sebagai bentuk pewarisan ingatan kepada anak-cucu sebagai generasi penerus berikutnya.

Budaya tutur mengenai perjalanan hidup para leluhur merupakan kenangan kegembiraan bahwa mereka yang ada sekarang merupakan  anugerah yang diperoleh dari masa lampau dan karenanya mereka mensyukurinya lewat suatu acara atau ritual.

Dari pengalaman ini, mereka sadar bahwa apa yang sudah terjadi pada nenek moyang mereka tidak terjadi begitu saja, tetapi mereka percaya bahwa ada suatu kekuatan yang telah menuntun mereka dan nenek moyang mereka sehingga mereka tetap hidup dan berkembang biak hingga masa sekarang. Mereka menyebutnya, kalada mata – belleka rokatillu, bermata besar-bertelinga lebar bahwa dia yang melihat segala sesuatu yang dilakukan manusia, baik itu perbuatan baik maupun perbuatan jahat, dan mendengarkan semua apa yang dikatakan atau disampaikan manusia, baik itu disampaikan secara personal maupun secara bersama-sama.

Ketiga, hubungan antarpribadi. Pengalaman pribadi manusia yang paling dekat dan sungguh terasa adalah hubungan dengan manusia di sekitarnya. Pengalaman berhubungan dengan dunia luar yang pertama mereka rasakan adalah kontak dengan ayah dan ibu.

Dalam hubungan itu, manusia merasa dicintai, dilindungi, dan diterima sebagai suatu pribadi yang unik. Segala yang baik di alam lewat tumbuhan, hewan, rumah yang memberikan kehangatan dirasakan dalam sikap dan kehadiran ibu dan bapa. 

Kesadaran bahwa kebaikan tidak hadir dengan sendiri, tetapi mesti ada sesuatu yang mengarahkan perilaku ibu dan bapa mereka menimbulkan keyakinan bahwa ada sosok tidak kelihatan yang memiliki sifat melampaui kebaikan siapa pun. Ina mawolo, citra seorang Ibu yang selalu memintal dan menenun kain atau sarung untuk dijadikan sebagai pakaian bagi anaknya, untuk melindungi anaknya dari dingin dan panasnya alam serta memberikan keindahan, dilekatkan kepada sosok yang tidak kelihatan itu.

Demikian pula, Ama marawi, citra seorang Bapa yang dengan segala kemampuan yang dimilikinya membuat sebuah rumah demi melindungi keluarganya dari panasnya terik mentari, dinginnya udara malam, derasnya hujan dan buasnya binatang liar dilekatkan kepada sosok transenden yang dipercaya telah menciptakan langit dan bumi.

Keempat, pengalaman batin. Dalam keseharian hidup manusia, ada semacam tanda-tanda tertentu yang menunjukkan kehadiran sebuah kekuatan yang melampaui kekuatan manusia. Dalam kehidupan orang marapu setiap peristiwa alam kerap dibaca sebagai tanda yang diberikan oleh sosok yang tidak kelihatan. Tanda itu bisa hadir sebagai bentuk teguran atas kesalahan, berkat atas sebuah pemujaan dan perbuatan baik, dan lain sebagainya oleh yang mahakuasa. 

Persetujuan atau penolakan dari sosok yang mahakuasa dapat dibaca melalui hati hewan kurban seperti babi  dan anjing (ate wawi, ate bongga) dan lewat tali perut ayam (ai manu).

Pengalaman kepada kekuatan yang tidak terlihat dan melampaui kekuatan manusia itu perlahan-lahan membeku sebagai sebuah aturan, pandangan dan nilai-nilai tertentu yang mesti dilakukan atau dihindari oleh orang marapu. 

Ada banyak aturan yang mengatur cara hidup orang marapu. Namun, secara umum yang diturunkan lewat tutur kata ada tujuh. Itu biasa disebut, pitu li’i Ina-pitu li'i Ama, tujuh wasiat Ibu-tujuh wasiat Bapa.

Apakah pitu li’i ina-pitu li’i ama sama dengan sepuluh perintah Allah seperti yang dijelaskan dalam kitab suci? Itu adalah persoalan lain karena tulisan ini tidak bermaksud untuk membanding-bandingkan kepercayaan marapu dengan agama lainnya.

1. Bara nombawa Ina-Ama a angata lima a angata wa’i. Sembah sujudlah kepada Ibu dan ayah sebagai pencipta.

2. Ndu nduru wai koge lodo- ndu ka’u waikage kara. Jangan sebut nama-Nya dalam keadaan tidak hormat.

3. Ngindi nga’a panga’a – we’e paenu mbara Ina-Ama a dunga a ngodo. Bawalah persembahanmu kepada Ibu-Bapamu. Bagaimana sembah sujud itu bisa dilangsungkan? Selain melalui ritual yang langsung ditujukan kepada Ina duka Ina, Ama duka Ama, Ibu dari segala ibu dan Bapa dari segala bapa, tetapi juga lewat hormat dan patuh kepada Ibu dan ayah kandung.

4. Pa’akawi Ina Amamu kana malauge lolongaumu. Hormati Ibu ayahmu supaya panjang umurmu.

5. Ndu pamate kana ata. Jangan membunuh.

6. Ndu sala kana-ndu kedu kana. Jangan bersinah-jangan mencuri.

7. Ndu panewe ndu’a kana. Jangan berdusta.




Komentar